Persami Story-Sepeda Gila


see you!
lo, baru mulai kok udah see you --"
yah, pokoknya mulai deh! ^^

Alhamdulillah, kali ini gue bisa ngelanjutin persami story yang udah dengan suspay (susah dan payah), ato malah dengan suspayet (susah payah banget), ato bensuspayet (bener bener susah dan payah payah banget), apaun itulah, yang pasti akhirnya gue bisa nulis lagi ni cerita sekuel dari Pesta Ganja. Walau selisih sebulan kurang dikiiiiit sangat, yang penting jadi.

Ohya, buat yg belum pernah baca yang Pesta Ganja, bisa baca di sini.

Hmm... Daripadalamalama, check it out!

***
Minggu, 16 Oktober 2011

Fak PU minus Dhea, sedang berngesot-ngesot berjalan-jalan tanpa tujuan yang jelas. Lho, kenapa gak jelas? Soalnya kami bertiga belum tau arah tujuan kami. Bahaya banget ya?

Sambil menikmati dinginnya matahari pukul 7 pagi, gue mencoba melogika tempat yang akan kami tuju, sambil mengingat-ingat instruksi dari salah satu teman kami.


*flashback*

"Pos 4, Ratih, Vendi, sama Fitra! Fak PU kan?" kata Hajar, gue yang tadinya ngantuk jadi melek sejenak.
"Iya iya..." sahut gue.
"Yaudah, sana berangkat"

jadilah, gue Fitra, Vendi, bareng sama anak-anak laen, temen gue juga, berangkat ke pos masing masing. Kami berangkat bersama Hana dan Aris, mereka akan berjaga di pos 3 (kalo gak salah lo).

"Kayaknya kita lewat sini, deh" kata Fitra pada gue dan Vendi, menunjuk sebuah gang kecil di samping SMPN 6.
"Tapi mending kita ikuti jalur aja lo, biar ga bingung," kata Vendi. Gue ngangguk-angguk.
"Heyy... Kita pisah di sini yaaaaaa.." seru Hana tiba-tiba. Dia sama Aris emang cukup berhenti sampai Balai Komando, sementara kami bertiga masih harus belok kiri, belok serong kiri, terus belok kiri lagi.
"Tih, hati-hati ya. Kamu kan cewek sendiri. Nanti kalo Vendi ato Fitra ngapa-ngapain kamu, sms aku ya," pesan Hana sebelum kami berpisah. Gue jadi terharu. Sementara Vendi sama Fitra udah nyari batu buat nimpuk kepalanya Hana.
"BYE!!"

*flashback end*


"Kita masih mau jalan ke mana lagi, Fit?" tanya gue yang udah mulai frustasi. Mata ngantuk (semalem cuma bubug 2 jam), kaki lemah (dari kemaren sampe sekarang udah jalan 10 kilo #enggak enggak xP), kepala berat (ada hubungannya sama mata), de el-el.
#curcol dikit ya ^^v

Fitra mikir, sambil tetep jalan, "Lapangan basket SMP 6 tu di mana sih?"
"Mana gue tau lah..."
"Itu kalik ya?" Fitra nunjuk sebuah tempat dengan ring basket, tapi lokasinya di halaman rumah orang (kelihatannya).
"Bukan.." sahut Vendi, "itu kan rumah orang, Fit."
"Tadi katanya Hajar, jalan terus." Fitra masi mencoba berlogika.
"Oke, lurus terus," kata gue sambil merem.
"Ini udah mentok, Fit," lanjut gue, setelah menghadapi kenyataan bahwa jalanan semen telah tiada digantikan oleh tanah dan batu.
"I have no doubt (weyjiaand). Kayaknya memang ini jalannya."
"Udah, Fit. Mbalik dulu aja," usul Vendi.
Kita balik.

"Tih, ni tanya Hajar dulu," kata Fitra sambil menyerahkan hapenya.
nut... nut...

"Halo..."
"Halo, Jar. Kita gak tau tempatnya di mana," kata gue tanpa henti tanpa basa yang basi.
"Hmm... gini, tau jalan ke lapangan kesatrian ga?"
"Tau."
"Kalo ke lapangan kesatrian kan belok kanan, tapi kalo mau ke lapangan basket, lurus terus."
"He em."
"Lurus terus, sampe jalan yang jelek, gak beraspal..."
"ooo... HE, BENER LEWAT SINI!" teriak gue pada Fitra dan Vendi, melupakan Hajar yang di seberang sana.
"Ya, bener. Terus belok kiri, nanti pasti ketemu lapangannya."
"Siip! Tararengkyu, Jar!" kata gue sambil menekn tombol disconnect.
"JALAN!" perintahku pada kedua rekanku.

Waa.... Akhirnya kami sampe setelah muter-muter selama 1/4 jam. Vendi menyiapkan soal, gue melihat-lihat  jalan dan keadaan sekitar, sementara Fitra memandang hamparan sawah yang hijau. Ternyata ada juga pemandangan bagus di tempat ini. Gak sia-sia jaga di sini :')

Gue sama Fitra duduk di undak-undakan depan pintu masuk. Vendi bersikeras untuk menunggu di jalan yang kami lewati tadi. Dia yakin bahwa anak-anak akan datang lewat jalan itu. Gue sama Fitra sih, tetep di deket pintu kecil. Abis, gak panas sih ^^v

Beberapa menit kemudian, regu putri pertama dateng, lewat pintu yg dijagain sama gue dan Fitra. Tu, bener gue kan?? Gue manggil Vendi, dan permainan yang sebenarnya akan dimulai.

Awalnya, antarregu berjalan lambat. Maksudnya, dari satu regu ke regu lainnya jaraknya jauh, sehingga kami sampai terkantuk-kantuk menunggunya. Namun, sejak regu putra datang, keadaan berbalik 180 derajat. Kami kalang kabut dibuatnya. Soalnya cuma ada 4, sementara sekitar 7 regu ndopok. Kami hampir kehabisan stopwatch. Setelah jam tangan gue dan Fitra sama-sama bekerja, akhirnya hape kita pun dikerahkan. Haduh, saking sibuknya, gue jadi lupa sama kantuk gue. Sekarang gue udah bener-bener melek =D

Hampir 2 jam kami di lapangan basket ini. Perlahan tapi pasti, jumlah regu mulai berkurang. Saat regu terakhir sedang mengerjakan soal PU, 2 pahlawan datang dari jalan jelek tak beraspal. Naik sepeda. Kaget karena undak-undakan yang berjumlah kira-kira 10 tangga itu menghalangi perjalanan mereka.

"Hajar?" kata gue mengerjap-ngerjapkan mata.
"Safira sama Desi." kata Fitra pasti.
"Itu Vera?" tanya gue setengah ga percaya.
"Tadi aku juga ngira itu Hajar," kata Fitra.
"Gila. Sekarang mereka kembar ya?" kata gue pada diri gue sendiri.

Ternyata, mereka membawa pasukan, saudara-saudara. Hana, Aris, dan mbak-mbak dari UMP mengikuti di belakang mereka. Gue serta merta menghampiri mereka. Hana sudah menduduki sadel, (gayanya) siap meluncur. Ya, kalo mau mati, silakan --v. Mereka turun sambil menenteng sepeda.

Saat regu terakhir selesai mengerjakan, mbak-mbak dari UMP malah berfoto-foto dengang background sawah ijo. Seperti anda tau sendiri, Caphietjha identik dengan foto. Caphietjha takkan hidup tanpa kamera ^^. Kami (gak semuanya sih) ikut foto. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa hari sudah petang --> boong!
Nggak nggak, masih jam 10 kok. Terus kita pulang deh.

Kami lewat jalan yang tadi belum kami lewati (gang di sebelah SMP 6). Ya ampun, jalannya kayak shiratal mustaqim. Sempit banget. Vera yang nuntun sepeda aja diragukan untuk melewati jalan itu. Sampai di ujung jalan, ada persimpangan. Pertanyaannya: ke kanan ato ke kiri?

Jalan ke kiri menanjak, penuh dengan undak-undakan, dan harus nggotong sepeda. Tapi kami tau, jalan itu tembus ke gang di sebelah SMP 6. Kalo jalan ke kanan, menurun, asik buat sepedaan, tapi sayangnya, kami ga tau tembusannya. Ah, itu bisa difikir nanti. Kalo menurut gue, seru yang sebelah kanan. Temen-temen juga berpikir begitu. Tapi resikonya gede. Yaudah, menuruti perkataan orang yang lebih tua, kami ke kiri. Vera nggotong bagian stang, Mamang bagian tengah, dan gue ikut-ikutan nggotong bagian boncengan. Vera masih mencoba untuk menaiki sepeda itu. O, awas aja kalo berani naik sepeda ini saat jalanannya masih begini. Sepanjang perjalanan, kami tertawa :D

Sampai di ujung gang. Kami belok kanan karena akan kembali ke sekolah.
"Ayo Des, takboncengin lagi," ajak Vera.
"Ayo!"

Mamang gak memikirkan bahaya yang kan terjadi. Vera seperti kesetanan, layaknya saat ia naik motor, di pun ngebut dengan Mamang yang berteriak-teriak di belakangnya. Jalanan menurun dengan curam, sehingga Vera tidak perlu capek capek nggenjot. Namun, setelah itu, gantian jalanan naik dengan curam, tapi Vera masih berusaha menaklukkan jalan. Dia tetep nggenjot naik! Gue mangap, sementara temen-temen pada ketawa sambil beristighfar.

"SAMPAIKAN PESAN TERAKHIRMU, DES!!" teriak Hana sambil ketawa. Di belakang Vera, Mamang pegangan sadel, kakinya melayang dan dia hampir terlepas dari dudukannya (?)

Kayaknya Vera udah gak kuat tu. Dia berhenti sehabis perempatan, masih sambil ketawa, dan Mamang turun dengan muka kesakitan. Vera yang freak, markir sepeda di tengah jalan, sementara Mamang dan dirinya istrirahat di pinggir jalan. Tiba-tba ada motor lewat dari belakang kami, dan sepertinya akan lewat di depan Vera. Vera serta merta meminggirkan sepedanya, tapi ternyata motor itu belok kanan pas perempatan. Kami tertawa lagi.

Akhirnya, kami jalan semua. Gak lama, pas kita udah nyampe Glory, Vera kambuh lagi. Dan dia melanjutan perjalanan extrem-nya bersama Mamang...

Diam-diam gue seneng ngeliat ketua dan wakil Piros sebegitu akrabnya, sebegitu gilanya, sebegitu kompaknya. Diam-diam gue bangga. Gue sempet berfikir, Vera+Mamang=Super Combi!!

***
Sampe di sekolah, kami tampak lelah karena terlalu banyak tertawa.

"Tadi sepedanya siapa sih, Mang?" tanya gue.
"Nggak tau... tadi kita langsung ambil aja," kata Mamang dengan muka innocent-nya.
"Ha?!! Terus...."

***
TBC
hehe... Mianhae kalo ceritanya tambah ngawir,ga lucu, terlau formal, terlalu garing, ato terlalu-terlalu yang laennya. Yang pentting jadii... wkwk
Kalo masi mau lanjut, doain aja gue masih inget jalan ceritanya, tambah banyak waktu senggangnya, dan kosakata gokilnya juga tambah banyak. Amin. Hwaiting, Imun (?)...

Gomawoyo buat yang udah baca ^__^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

New Band? Owh I Surprised!

Karena Wanita... Ingin Dimengerti?

anak dunia